Press "Enter" to skip to content

Lenyapnya Frasa “Tujuan Wisata”

Last updated on January 20, 2019

Saat dua hari yang lalu saya mengunggah tulisan “Gunung Agung bukan Erupsi, tapi Meletus”, beberapa kawan Facebook saya melemparkan respons. Maka, Pak Mintardjo, editor senior di sebuah perusahaan penerbitan buku sekolah, berkomentar tentang kata tapi di situ. “Bukan tapi, melainkan melainkan,” katanya. O, ya. Dia benar.

Selanjutnya, Indi Aunullah, editor senior juga yang sering menyunting buku-buku terbitan Alvabet, berkomentar tanpa membaca isi tulisannya. “Sama dengan destinasi wisata. Itu paling menyebalkan,” katanya.

Pendapat saya terkait Gunung Agung dan kata erupsi itu sesungguhnya bukan dalam kerangka melawan kata-kata serapan asing, melainkan lebih karena kata erupsi adalah nomina, bukan verba. Jadi, saya langsung paham bahwa komentar Indi itu di luar konteks perbincangan dalam ulasan saya.

Kendati demikian, apa yang dia katakan itu memang sangat menggelitik. Destinasi wisata. Ini lucu sekali. Frasa ‘destinasi wisata’ memang sudah benar, tidak ada yang keliru dengan makna maupun logika pembentukan kata di dalamnya. Dalam KBBI, kata yang rupanya merupakan serapan dari istilah bahasa Inggris destination tersebut mendapat makna:

des.ti.na.si

n tempat tujuan; tempat tujuan pengiriman

Simpel sekali, bukan? Destinasi adalah tujuan. Nah, pertanyannya, kenapa sejak kemunculan istilah ‘destinasi wisata’, lantas ‘tujuan wisata’ tak lagi terdengar di telinga? Padahal, dulu di zaman Pak Harto, ketika ramai-ramainya kadarwis alias keluarga sadar wisata, jelas rangkaian kata tujuan wisata diucapkan setiap hari oleh penyiar TVRI.

Saya menduga ‘destinasi wisata’ menjadi dominan dan menghapus ‘tujuan wisata’ sejak merebaknya hobi dan liputan-liputan tentang travelling, eh, maksud saya perjalanan. Dalam berbagai liputan dan tulisan-tulisan perjalanan, mendadak kata destinasi tampil seolah-olah lebih keren daripada tujuan. Hahaha.

Meskipun keduanya sama artinya dan sama-sama sudah diakui sebagai kata-kata baku di dalam bahasa Indonesia, semestinya kita paham bahwa sebuah kata serapan tidak lantas lebih hebat ketimbang kata asli milik kita, bukan?

Oleh karena itu, di lain waktu semestinya kita mempertukarkan keduanya secara lebih adil. Jika destinasi selama ini cuma dipakai untuk aktivitas tersier semacam berwisata, sekarang cobalah mengucapkannya untuk hal-hal lain yang lebih sederhana dan lebih minim biaya.

“Mbok Jum, kok keluar bawa kronjot gitu, destinasimu mana sih?”

“Mari kita senantiasa meningkatkan amal ibadah agar selalu ingat ke mana destinasi akhir kita.”

Hanya dengan cara itu kita akan mampu bersikap adil kepada semua khazanah kosakata dalam bahasa Indonesia.

 

Content Disclaimer
The content of this article solely reflect the personal opinions of the author or contributor and doesn’t necessarily represent the official position of Bahasa Kita.

error: Content is protected !!