Press "Enter" to skip to content

Ajib

Last updated on March 31, 2022

Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang memiliki tingkat perubahan atau perkembangan yang cukup tinggi dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain. Banyak kata-kata baru yang tiba-tiba bermunculan. Beberapa kata baru tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat luas, namun sebagian lainnya akhirnya terlupakan dan tidak pernah digunakan lagi.

Media masa, dengan mengadaptasi kata-kata dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris, tak henti-hentinya memperkenalkan istilah-istilah dan struktur-struktur bahasa asing tersebut di dalam tulisannya. Besarnya pengaruh dunia pers terhadap bahasa membuat kata-kata yang diadaptasi dari bahasa asing tersebut lama kelamaan diterima masyarakat. Padahal kata-kata tersebut belum tentu benar dari segi struktur dan tata bahasa.

Bahasa Jawa, Sunda dan bahasa Arab belakangan ini juga semakin sering mempengaruhi bahasa Indonesia. Dua puluh tahun yang lalu seorang penulis atau wartawan harus memiringkan kata ngabuburit jika terpaksa harus memasukkan kata tersebut ke dalam tulisannya. Ngabuburit adalah kata slang yang berarti menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan.

Namun kini para penulis ataupun wartawan tak perlu lagi memiringkan kata ngabuburit dalam tulisannya karena kata yang berasal dari bahasa Sunda tersebut sudah resmi menjadi lema (entri) ataupun sublema pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi Keempat yang diluncurkan bulan Januari 2009 lalu, seperti tercantum di halaman 226.

Selama bulan puasa(Ramadan) yayasan-yayasan sosial pengumpul zakat sering beriklan dengan pesan: “Zakat memang ajib”. Walaupun banyak yang tidak tahu persis apa artinya namun begitu seringnya kata itu digunakan membuat sebagian masyarakat mulai biasa dengan kehadiran kata tersebut.

Kata ‘ajib’ juga banyak digunakan di daerah Banyumas, Pemalang dan sekitarnya sehingga banyak yang mengira kata tersebut merupakan dialek daerah tersebut.

Yang pasti kata ‘ajib‘ tidak terdapat di kamus mana pun kecuali di Kamus Dialek Jakarta, Abdul Chaer, Edisi Revisi, Jakarta 2009 yang menterjemahkan ‘ajib‘ sebagai “bukan main enaknya, nikmatnya, eloknya”. Kata ‘’ajib‘ berasal dari bahasa Arab yang artinya “mengagumkan, luar biasa, menakjubkan”.

Jika kita kembali pada pesan “Zakat memang ajib” yang banyak didengungkan selama bulan Ramadan maka artinya adalah bahwa berzakat atau beramal adalah suatu perbuatan yang baik atau elok yang mampu memberikan kenikmatan atau kepuasan pada yang melaksanakannya.

Ajib‘ dan ‘ajaib‘ memiliki akar kata yang sama yaitu – ب  – ي  – ج – ع  . ‘Ajaib‘ (عجائب) adalah bentuk jamak dari ‘Ajibah‘ (عجيبة) , yang artinya “mengherankan, keingin-tahuan, hal-hal yang menakjubkan“.  Dan yang lebih menarik adalah kata menakjubkan pun berasal dari bahasa Arab dengan akar kata yang sama yaitu – ب – ج – ع.

Kata ‘ajaib’ sudah lama menjadi bagian dari kosa kota bahasa Indonesia dan pemakaiannya pun sudah sangat merata dan meluas di setiap kesempatan dan digunakan oleh setiap lapisan masyarakat. Akankah kata ‘ajib’ bernasib seperti ‘ajaib’ atau ‘ngabuburit’ yaitu diterima resmi menjadi bahasa Indonesia suatu hari? Tentunya tergantung berapa lama istilah ini mampu bertahan dan seberapa populer kata ini bisa diterima oleh masyarakat. Kita lihat saja.

Nara sumber:
Dr. Nikolaos Van Dam, Duta Besar Belanda untuk Indonesia di Jakarta.

error: Content is protected !!