Ubahsuai

Pernahkah anda mendengar orang mengucapkan kata “ubahsuai” ?, nyaris tidak yaa ?. Saya pun baru mendengar kosakata tersebut dari seorang teman baik saya. Penasaran, saya pun mencari referensi tentang kosakata ini.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia ubahsuai dapat berarti menjadikan sesuatu berubah supaya sesuai dengan kehendak (keperluan dsb), dengan ketentuan sebagai berikut :
ubah su·ai , meng·u·bah·su·ai·kan v;
ubah su·ai·an n hasil mengubahsuaikan;
peng·u·bah·su·ai·an n proses, cara, perbuatan mengubahsuaikan

Kosakata ubahsuai ini terasa lebih meng-Indonesia sebagai padanan kata “modifikasi” yang berasal dari kata serapan bahasa inggris “modification”. Contohnya “memodifikasi” menjadi “mengubahsuai”. Meskipun “ubahsuai” pada awalnya agak terdengar “janggal”, namun jika dicermati lebih jauh, lama-kelamaan menjadi serasi dan enak juga terdengar ditelinga.

Sampai saat ini bahasa Indonesia telah banyak mengalami proses “inggrisisasi” atau penginggrisan”. Dalam bidang teknologi misalnya, banyak sekali kosakata bahasa Inggris yang begitu saja diadopsi lalu diadaptasi, baik dalam wujud yang sudah dimodifikasi (ubahsuai) seperti klarifikasi dari kata clarify, hingga kata-kata yang tetap utuh dalam ejaan aslinya seperti istilah-istilah komputer, misalnya mouse, harddisk, cashing, processor, monitor, motherboard, dlsb. Akan menjadi aneh dan lucu jika diterjemahkan begitu saja misalnya tetikus (mouse), menguangkan (cashing), papan ibu (motherboard).

Dalam perkembangannya bahasa Indonesia mempunyai kosakata serapan yang berasal dari berbagai bahasa asing. Kosakata serapan itu ada yang sudah begitu lama sehingga tidak terasa sebagai kosakata serapan.

Kelompok-kelompok terpelajar dan dunia akademis misalnya juga banyak menggunakan kosa kata bahasa inggris seperti :

  • Destinasi serapan dari Destination (tujuan)
  • Ekspektasi serapan dari Expectation (harapan)
  • Edukasi serapan dari education (pendidikan)
  • Kompilasi serapan dari compilation (kumpulan)

Dalam era “kekinian” pengaruh bahasa Inggris menjadi bertambah besar, sehingga kosakata yang diserap dari bahasa Inggris semakin banyak. Sebagai contoh, kuliner, komuter, mitigasi, quick count, elektabilitas, sale, diskon (discount), transfer, dan lain sebagainya.

Disamping itu Bahasa Indonesia bahkan juga lebih dulu mengalami proses penjawaan (Jawanisasi) karena banyak kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa yang masuk kedalam bahasa pergaulan, misalnya, kata ganti orang Mas dan Mbak makin meluas penggunaannya, kemudian kata-kata seperti, mbalelo, ndeso, pemirsa (para miyarsa), dan masih banyak lagi.

Menurut berbagai sumber bahasa Indonesia mempunyai daya serap yang tinggi terhadap bahasa asing. Dalam kamus kata serapan Bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan disebutkan, kata serapan berasal dari bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Cina, bahasa Inggris, bahasa Portugis, bahasa Sansekerta dan bahasa-bahasa lainnya, kata serapan dari bahasa Belanda jumlahnya paling banyak, yaitu lebih dari tiga ribu kosakata. Kemudian disusul oleh serapan dari bahasa Inggris sebanyak sekitar 1.450 kosa kata, disusul oleh bahasa Arab sebanyak kurang lebih 1.380 kosakata.

Kosakata serapan yang berasal dari bahasa Belanda masih banyak yang bertahan hingga kini, antara lain : asbak, bak, bensin, kado, klakson, kontan, dasi, dinas, ember, etalase, pabrik, gorden, handuk, gratis, kantor, koper, keran, kuitansi, laci, lem, plafon, resep, skors, skorsing, semir, seprai, setrika, permak, perban, salep, wastafel, waskom, dan wortel. Ada juga kosakata Belanda yang cenderung tergusur oleh padanannya dari bahasa Inggris, misalnya : afdruk menjadi print, kontan menjadi cash (tunai), karcis menjadi tiket, korting menjadi discount, waserai dan wasserij menjadi laundry.

Dalam penggunaan sehari-hari maupun dalam kesempatan resmipun seringkali kita hampir tidak bisa membedakan kapan harus berbahasa baku, dan kapan harus berbahasa tidak baku.
Penggunaan kosakata baru hasil serapan memang tidak dapat dihindari, begitulah keadaan bahasa Indonesia yang terus berkembang, terus menyerap kosakata baru dari bahasa asing, semakin memperkaya, asalkan tidak meng-kebiri padanannya yang asli bahasa Indonesia menjadi tersingkirkan atau terlupakan. Kosakata dan bahasa baku masih tetap diperlukan khususnya dalam kesempatan-kesempatan resmi, penulisan makalah, dokumen-dokumen, karya-karya sastra dan buku-buku, terlebih lagi bahasa baku dapat menunjukkan jatidiri bangsa Indonesia.

Demikian dinamisnya bahasa Indonesia sehingga cepat berkembang seiring berubahnya jaman, dan akan berkembang terus sebagaimana variasi bahasa Indonesia yang berbeda-beda dari satu wilayah ke wilayah lainnya, serta mengalami kreolisasi dari bahasa Melayu yang rumpunnya diakar dari Kepulauan Riau dan perkembangannya pun makin hari makin pesat karena jumlah penutur yang banyak dan cakupan bidang yang juga makin mendunia. Dalam kreolisasi elemen-elemen kebudayaan lain diserap, tetapi dipraktekkan dengan tidak mempertimbangkan makna aslinya. Konsep kreolisasi sekaligus memberikan cara berpikir alternatif, yang berbeda dengan konsep kultural “ibu”nya (Tomlinson 1991).

Seorang ahli bahasa juga pernah mengatakan bahwa dari 10 kata bahasa Indonesia, ada 9 kata serapan asing. Terbersit sebuah pertanyaan, apakah dinamika tersebut menjadi sesuatu yang positif atau bahkan negatif ?

Apa pun, menjadi sebuah tantangan besar bagi para cerdik pandai dan ahli bahasa kita untuk senantiasa berpikir dan merumuskan kosakata-kosakata baru yang lebih berciri khas Indonesia seperti halnya kosakata “ubahsuai” yang berhasil memadankan kosakata serapan bahasa inggris “modifikasi”.

Pendidikan nasional boleh saja memasukkan bahasa asing dalam kurikulum agar kedepan, bangsa kita dapat bersaing dengan bangsa lain, namun tentu saja jangan melupakan pengajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ayooo… kita “ubahsuai”kan kosakata serapan bahasa asing menjadi lebih membumi Indonesia.

About author
Born in Jakarta, on February 20, 1961, he graduated his Master degree in Urban and Town Planning from the University of Gadjah Mada, Yogyakarta. He works as a researcher in BPPT and as the Head of Research & Development in BAPPENAS, Jakarta. He likes writing and contributes several articles in Jurnal Nasional newspaper.

BahasaKita © 2014 All Rights Reserved

A Wieke Gur Production