Keindahan dan Kekuatan Bahasa

Keindahan Bahasa

Bahasa seringkali digunakan oleh para seniman dan sastrawan untuk menggambarkan suatu keindahan, apakah kecantikan perempuan, keindahan alam, keagungan Tuhan, keindahan cinta, dan berbagai keindahan lain. Begitu dekatnya bahasa dan keindahan sehingga mampu membawa manusia terbawa ke dalam alam perasaan. Sebuah rangkaian kata dan kalimat yang indah mampu membuat manusia menangis, sedih, terharu, bahagia, dan jatuh cinta

Biasanya keindahan akan diaktualisasikan oleh pecinta seni melalui berbagai bentuk seperti puisi, sajak, cerita, syair, dll. Keindahan yang ingin digambarkan seringkali menggunakan kosakata perumpamaan atau idiom, dengan mengambil contoh yang ada pada alam dan lingkungan, misalnya: ketika ingin menggambarkan kecantikan seorang wanita, ada kalimat yang mengatakan :

1)    Dagumu “bak lebah bergantung”
2)    Alis matamu “bak semut beriring
3)    Betismu “bak bunting padi”
4)    Wajahmu “bak pualam”
5)    Di wajahmu kulihat bulan
6)    Indonesia “bak ratna mutu manikam”

Disini sang penyair ingin menggambarkan betapa bentuk dagu seorang wanita yang menggantung demikian indahnya hingga mirip sarang lebah yang bergantung. Imajinasi seorang penulis syair akan menari-nari di dalam kepalanya ketika melihat  keindahan alis mata, betis, dan wajah seorang wanita. Kekaguman itu segera terhubung dengan apa yang mungkin pernah dilihat bagaimana semut berjalan beriringan, bentuk padi yang sedang bernas, dan jernihnya batu pualam.

Keberhasilan seorang penyair, terletak pada pemilihan kosakata yang tepat dan mampu menggambarkan sebuah keadaan yang dapat dipahami oleh pembacanya.

Kemampuan menuliskan syair indah kedalam bentuk puisi bukan hanya monopoli para penyair dan seniman saja. Dengan melatih kepekaan dan ketajaman perasaan, orang kebanyakan pun dapat melakukannya, orang tua, orang muda, pria, wanita, pelajar, bahkan presiden SBY pun gemar dan mahir menulis puisi.

Berikut dibawah ini adalah contoh karya puisi seorang wanita yang ingin menggambarkan kebahagiaan hatinya:

Untuk Kamu
Oleh Aruni Dyah Utami

Rindu itu selalu tumbuh menjalari seluruh tubuh,
bagai air yang selalu mengalir
hanya ia yang mengerti…
Lalu,

biarkanlah angin menyapu pasir
membawanya terbang bertemu awan
bersimpuh, menanti kening langit tak berkerut lagi,,
Lalu ia kehilangan cahaya surya,
berganti kelabu beku,
sampai kau menangis…
berteriak dan menghasilkan petir..
dan..

ketika tangis terasa tak berarti,
ia datang menghadiahkan mu.,
sebuah pelangi…

Keindahan dan kebahagiaan suasana hati ternyata bisa di transfer kepada orang lain melalui sebuah susunan kalimat dan bahasa yang indah

Kekuatan Bahasa

Selain efek keindahan, bahasa juga dapat memberi pengaruh kekuatan yang luar biasa dalam membangun semangat dan keinginan untuk bergerak

Pada masa revolusi fisik tahun 1945. peranan bahasa memberikan peran yang luar biasa bagi para pejuang nasionalisme. Kemahiran para pemimpin mengungkapkan pikiran secara lisan pada diri para pejuang, menimbulkan dampak yang luar biasa kepada para rakyat, sehingga memungkinkan mereka untuk bersemangat mengikuti ajakan untuk mengangkat senjata dan melawan penjajahan.

Sebuah bahasa yang digunakan dalam pidato dan orasi mampu membakar dada para pemuda untuk tidak takut mati. Kata dan kalimat yang dilontarkan oleh bung Tomo di surabaya tanggal 10 November 1945 memiliki energi yang luar biasa, seseorang yang mendengarnya akan “merinding” kemudian timbul jiwa patriotisme untuk melawan tentara pendudukan Inggris.

Berikut ini kutipan dari pidato Bung Tomo 10 November 1945 versi ejaan lama :

Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!
Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.
Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.
Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa ra’jat Indonesia di Soerabaja
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,
didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana
Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.
Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.
Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia, ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini.
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian
Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe, menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe
Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada, Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjoer leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA ataoe MATI.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatoeh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindoengi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!

Luar biasa dahsyat pengaruh pidato ini, sehingga melahirkan pertempuran sengit antara tentara rakyat Indonesia dengan tentara Inggris. Tidak terhitung berapa jumlah korban jiwa dari kedua belah pihak yang gugur. Inilah salah satu legenda kepahlawanan bangsa Indonesia yang patut dihormati dan menjadi teladan. Andaikan saja saat ini bangsa Indonesia memiliki tokoh-tokoh sekaliber seperti Bung Tomo ini …

Bahasa telah menjadi bukti nyata sebagai alat penggalangan sebuah gerakan maha dahsyat. Segalanya sangat bergantung pada kekuatan berbahasa, satu kekuatan bersama dalam membangun identitas bangsa yang kuat adalah melalui bahasa nasional..

About author
Born in Jakarta, on February 20, 1961, he graduated his Master degree in Urban and Town Planning from the University of Gadjah Mada, Yogyakarta. He works as a researcher in BPPT and as the Head of Research & Development in BAPPENAS, Jakarta. He likes writing and contributes several articles in Jurnal Nasional newspaper.

BahasaKita © 2014 All Rights Reserved

A Wieke Gur Production