Gaul

“Hai-hai“, seru gadis yang bertatoo. “Ih, kok jaim gitu seh !“ protesnya berlanjut. Gadis berkaca mata menghela nafas, dan berseru, “Jayus deh, pagi-pagi gini.“ Lalu mereka sibuk bercipika dan cipiki (cium pipi kanan dan pipi kiri). “Pasti nggak jauh neh, Andre lekong loh bikin stori lagi yah ? Udah go jomblo aje ne ! Takut amat seh ….“ gadis bertatoo memberikan motivasi. “Enak aje capcus-nye. Andre kan agatha banget, tajir, dan nggak pelit. Facenya juga licin abis. Imut banget.”

Percakapan di atas memang tidak persis banget. Tapi hanya saya rekam sebagian yang saya ingat saja. Saya juga bukan ahli dengan bahasa seperti itu. Anda mungkin bertanya, apakah itu bahasa Indonesia ? Percaya atau tidak, itu memang bahasa Indonesia tulen. Istilah kerennya, bahasa gaul jaman gini. Kalau anda tidak paham dengan bahasa ini, maka anda bisa di cap kurang gaul.

Makin hari makin banyak istilah yang diciptakan. Jadi yang kurang bergaul makin lama jadi makin tidak mengerti apa apa ya kalau ada orang ngomong. Termasuk para orang tua yang semakin bingung dan tidak mengerti kalau anaknya sedang ‘chatting’ atau bicara di telepon dengan teman-temannya.

Orang-orang yang tidak rajin mengikuti gosip-gosip terakhir pun bisa kita sebut sebagai orang yang kurang gaul, seperti contoh berikut:

“Tet, besok jangan lupa makan siang sama Dodi, Djati, Ineng dan Nana di Pacific Place”, kata Eni mengingatkan Tetty via telepon. “Dimana Pacific Place?”, kata suara di seberang gagang telepon. “Wah! Payah lo … kurang gaul juga  .. masa Pacific Place nggak tau”, kata Eni lagi.

Ekspresi ‘kurang gaul’ di atas artinya Teti dianggap kurang mengikuti perkembangan adanya tempat tempat baru yang populer di Jakarta.

Istilah ‘gaul’ dalam percakapan sehari hari memiliki arti yang sangat luas dan dapat diaplikasikan menjadi beberapa istilah seperti: bahasa gaul, anak gaul, kurang gaul, bergaul, segaul, paling gaul, gaul banget. Orang yang memiliki banyak teman dan kenalan dianggap orang yang sangat bergaul.

Simak percakapan di bawah ini:

“Tau nggak?? Ternyata si Nina kenal juga sama Tony, Wawan, dan Iwan lho”, kata Pungky pada Dessy sahabatnya. “Lho .. Nina itu dari dulu memang gaul banget. Semua orang dia kenal. Lihat saja di kolom Face Book-nya dia. Daftar temannya lebih dari 3000. Yang nggak bergaul kan cuma kamu. Temen kamu itu cuma aku sama suami kamu .. hahaha, “ kata Dessy terbahak. Di SMA Nina memang terkenal anak paling gaul. Yang lain-lainnya tidak ada yang se-gaul dia.

Dalam hal ini dijelaskan bahwa Nina adalah anak yang sangat populer di kalangan teman temannya dan memiliki teman yang sangat banyak.

Atau:

“Hai Din, apa acara kamu Jumat malam besok?,” tanya Tetty pada teman kantornya. “Oh .. besok aku mau bergaul sama teman-teman ex SMP ku di Pondok Indah Mall”, kata Dina sambil berbinar binar.

Bergaul’di atas artinya berkumpul dengan teman teman.

Atau:

“Hai San, kamu kenal Linda nggak? Dia rumahnya di Bintaro juga lho deket rumah kamu”,   tanya Ayu. Santi pun menggeleng-geleng,”Wah! Aku kalau di rumah nggak bergaul, jadi nggak kenal siapa-siapa”.

Bergaul’ di atas artinya berteman, bersosialisasi, dan mau berinterkasi dengan orang-orang sekitar.

Namun jangan samakan kata ‘gaul’ dalam percakapan sehari-hari dengan kata gaul dalam bahasa resmi atau formal. Sebagai kata dasar kata ‘gaul’ memang memiliki arti yang sama baik bahasa formal atau pun bahasa sehari-hari yaitu berteman, berinterkasi dengan orang lain dan bermasyarakat.

Penambahan awalan dan akhiran ke dalam kata ‘gaul’ dalam bahasa formal memberikan arti yang sama sekali berbeda dengan yang dipakai dalam percakapan sehari hari.

Menggauli – bersetubuh
Digauli – disetubuhi
Menggaul – mencampur, mengaduk
Pergaulan – kehidupan bermsyarakat

Kafi Kurnia

About author
The founder of BahasaKita. A cross-cultural business strategist, a trainer and a consultant, she has been invited to speak for multinational companies, government and non-government organisations in Australia and Indonesia. A graduate from Faculty of Economy, University of Indonesia, she is also a marketing professional. She develops a Cross Cultural Game - Diversophy , the powerful tool for teaching and training needed to deal successfully with people of other backgrounds.

BahasaKita © 2014 All Rights Reserved

A Wieke Gur Production