<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Bahasa Kita</title>
	<atom:link href="http://www.bahasakita.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bahasakita.com</link>
	<description>Indonesian Language Practical Learning Site for Everybody</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 04:29:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Confix ber - an &#038; ber - kan</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/formal-grammar/confix-ber-an-and-ber-kan/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/formal-grammar/confix-ber-an-and-ber-kan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 00:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Formal Grammar]]></category>

		<category><![CDATA[cow]]></category>

		<category><![CDATA[kaya]]></category>

		<category><![CDATA[ke-an]]></category>

		<category><![CDATA[keadaan]]></category>

		<category><![CDATA[kebanyakan]]></category>

		<category><![CDATA[kebaya]]></category>

		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>

		<category><![CDATA[kebut]]></category>

		<category><![CDATA[kebut-kebutan]]></category>

		<category><![CDATA[kecap]]></category>

		<category><![CDATA[kecape(k)an]]></category>

		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>

		<category><![CDATA[keinginan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[These confixes form a verb that indicates mutuality or reciprocity. 'Ber-kejar-an' means racing each other.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h4>ber - an</h4>
<p>Confix (Circumfix/Ambifix) is an affix that is attached to the front and to the end of a base simultaneously. However, not all base words can be combined with affixes, nor are they always consistent in their subsequent usage and meaning.</p>
<p>This confix form a verb that indicates mutuality or reciprocity.</p></div>
<div class="usage">
<h4>Examples</h4>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Root Word</strong></td>
<td><strong>Meaning</strong></td>
<td><strong>ber-an</strong></td>
<td><strong>Meaning</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>kejar</td>
<td>chase, pursue</td>
<td>berkejaran</td>
<td>race each other</td>
</tr>
<tr>
<td>tabur</td>
<td>spread</td>
<td>bertaburan</td>
<td>scattered</td>
</tr>
<tr>
<td>jatuh</td>
<td>fall</td>
<td>berjatuhan</td>
<td>drop everywhere</td>
</tr>
<tr>
<td>desak</td>
<td>push</td>
<td>berdesakan</td>
<td>jostle one another</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<h4>ber - kan</h4>
<div class="usage">
<h4>Examples</h4>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Root Word</strong></td>
<td><strong>Meaning</strong></td>
<td><strong>ber - kan </strong></td>
<td><strong>In a Sentence</strong></td>
<td><strong>Meaning</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>mandi</td>
<td>bath</td>
<td>bermandikan</td>
<td>Malam ini langit bemandikan cahaya bintang</td>
<td>Tonight the sky is bathed in stars</td>
</tr>
<tr>
<td>dasar</td>
<td>base</td>
<td>berdasarkan</td>
<td>Berdasarkan kenyataan &#8230;.</td>
<td>Based on the fact &#8230;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/formal-grammar/confix-ber-an-and-ber-kan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PD (Baca: Pe De)</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/slang/pd-baca-pe-de/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/slang/pd-baca-pe-de/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 20:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Slang]]></category>

		<category><![CDATA[kepercayan diri]]></category>

		<category><![CDATA[keyakinan diri]]></category>

		<category><![CDATA[pd]]></category>

		<category><![CDATA[pede]]></category>

		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[PD (Pe De) adalah singkatan dari Percaya Diri. Percaya berarti yakin. Percaya Diri atau percaya kepada diri sendiri artinya yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya). .... <a href="/updates/pd-baca-pe-de/">more ... </a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Nan &#8230; ! gue nggak <strong>Pe De</strong> nih bikin blog .. gue kan bukan penulis..” Aku berusaha menolak usulan Nani untuk mulai membuat blog. Aku merasa tidak yakin bisa menulis, karena aku bukanlah seorang Zara Zettira sang Novelis  yang terkenal itu, atau seorang Kafi Kurnia yang semua orang sudah mengakui kepiawaiannya menulis.  “<strong>Pe De</strong> aja lagi&#8230;!” kata Nani berusaha memberiku semangat.</p>
<p><strong>PD</strong> (Pe De) adalah singkatan dari <strong>Percaya Diri</strong>. Percaya berarti yakin. Percaya Diri atau percaya kepada diri sendiri artinya yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan diri sendiri atas sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya).</p>
<p>Malam Minggu lalu, ada pentas seni yang diadakan oleh salah satu Sekolah Menengah Atas terkenal di Jakarta. Hampir seluruh anak-anak gaul di Jakarta terfokus di acara tersebut. Penampilan mereka pun beraneka ragam terutama murid-murid laki-laki. Ada yang datang dengan model rambut seperti sapu ijuk, jabrik dimana-mana sehingga sebagian mukanya dipenuhi rambut karena poninya panjang. Ada yang bergaya dengan rambut model kribo dan kusut, seperti sudah bertahun-tahun tidak cuci rambut. Dan ada juga yang rambutnya cuma diikat ke belakang karena panjang sekali. Mereka semua tampak <strong>PD</strong> berjalan kian kemari. Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa minder, dan tidak ada yag merasa aneh. Padahal, aturan model rambut laki-laki umumnya pendek saja.</p>
<p>Murid-murid perempuan lain lagi gayanya. Ada yang mengenakan stocking warna merah mencolok. Model bajunya pun tidak jelas. Corak blus dan roknya tabrakan alias tidak senada, atau istilah anak sekarang nggak &#8216;<em>matching</em>’. Blusnya kotak-kotak sementara roknya boleces-boleces atau polkadot. Model rambut mereka??? Hmmmm&#8230; Dari yang tidak simetris hingga gaya yang rambut yang di tata seperti gaya ibu-ibu.  Dan mereka &#8230; tampak <strong>PD</strong> aja tuh &#8230;..</p>
<p>Sementara Anak-anak berseliweran dengan aneka penampilan mereka, di panggung terlihat band-band pengisi acara dengan <strong>PD</strong>-nya mulai berjingkrak-jingkrak. Para personilnya mengangguk-anggukkan kepala, rembutnya berjuntai-juntai menutupi mukanya yang sudah basah oleh keringat. Suara mereka terdengar meraung-raung. Buat telingaku mereka seperti berteriak-teriak saja, karena tidak jelas syair apa yang sedang mereka nyanyikan. Suara musiknya pun menggelegar-gelegar memekakkan telinga.</p>
<p>Setelah itu muncul seorang penyanyi melankolis yang menyanyi dengan suaranya yang mendayu-dayu. Aku tidak dapat menikmatinya karena warna suaranya terkesan cengeng untuk seorang laki-laki remaja, nadanya pun kadang terdengar sumbang. Penampilannya  membingungkanku. Dengan rambut menutupi sebagian matanya, celana jeans ketat, tubuhny terilhat sangat kurus. Namun mereka tetap tampil dengan <strong>PD</strong> di depan penonton. Kudengar sebagian besar penonton wanita tak henti-hentinya meneriakkan nama sang penyanyi dengan histeris. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.</p>
<p>Aku ingat Siska, sahabatku. Tadi pagi dia menelponku dan berkata bahwa semalaman dia tidak bisa tidur. Sudah berulang-ulang dia membaca teks pidato kata sambutan yang ditulisnya. Teks itu harus dia baca sebagai ketua Panitia Bakti Sosial ibu-ibu di kantor suaminya pada acara pembukaan minggu depan. Berulang kali juga Siska berdiri di depan kaca, mengatur posisi berdiri, mengatur keras pelannya suara dan gaya membawakan pidatonya, supaya tidak terlihat kaku. Setiap kata didalam teks pidatonya, di ulang-ulang, di hafal, agar tidak salah.</p>
<p>Aku jadi geli mendengar ceritanya. Ini adalah kali pertama Siska harus berpidato di hadapan orang banyak. Terbayang olehku Siska harus membaca pidatonya di hadapan Bapak Mentri Sosial, Bapak Direktur dan Ibu, yang telah memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi Ketua Panitya Bakti Sosial besar ini. Belum lagi, tamu-tamu undangan rekan bisnis dan donatur-donatur yang telah menyumbang. Dia bilang ingin rasanya dia berikan tanggung jawab ini kepada teman panitia yang lain. Siska benar-benar tidak <strong>PD</strong> menghadapi situasi ini.</p>
<p>Ketidak <strong>PD-</strong>an, biasanya timbul karena belum pernah melakukan, belum biasa atau tidak adanya keyakinan diri dalam menghadapi sesuatu. Padahal <strong>PD</strong> (Percaya Diri) atau kepercayaan diri dapat dilatih dengan sering melakukan hal-hal yang belum diyakininya.</p>
<p>Namun kepercayaan diri yang berlebihan juga kadang dapat membuat keadaan tidak menjadi baik. Dua hari lalu Tasha mengatakan bahwa dia baru saja mengirim bunga untuk Andrew sebagai tanda cintanya. Padahal sudah berkali-kali aku berusaha menjelaskan bahwa Andrew kini jalan dengan Arumi, selebritas yang sedang naik daun. Namun dengan <strong>PD-</strong>nya Tasha selalu menepis argumenku dengan mengatakan, ”Tenang aja deh&#8230;. cinta Andrew tuh cuma buat gue kok&#8230;”.</p>
<p>Aku sudah kehabisan akal. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menyadarkan sahabatku yang satu ini, Tasha seperti  tidak mau menerima kenyataan. Padahal Andrew memang sudah hampir sebulan tidak pernah lagi berusaha menghubungi Tasha.</p>
<p>Akhirnya aku cuma bisa menghela napas. Ternyata kita perlu memiliki dosis <strong>PD</strong> yang pas dan tepat &#8230;</p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://www.bahasakita.com/about/contributor/">Nina Muriza</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/slang/pd-baca-pe-de/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cenayang</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/updates/cenayang/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/updates/cenayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 07:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vocabulary Updates]]></category>

		<category><![CDATA[Andra Muluk]]></category>

		<category><![CDATA[cenayang]]></category>

		<category><![CDATA[ke-cenayang-an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=906</guid>
		<description><![CDATA[Cenayang artinya dukun (pawang) yg dapat berhubungan dengan makhluk halus atau kemampuan meramal(Clairvoyance). Tentu maksudnya kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat masa depan atau meramalkan apa yang akan terjadi ... <a href="/updates/cenayang/">more ... </a>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andrascope.asistimindo.com/" target="_blank">Andra Ramadhan Muluk</a><br />
Astrologer/Writer/Speaker</p>
<p><strong>Jelang Imlek, Banyak Orang Tanya Peruntungan</strong><br />
KOMPAS, JAKARTA, RABU 6 Februari 2008 | 20:53 WIB<br />
<em>Menjelang Imlek 2559, ternyata banyak orang yang bertanya peruntungannya  kepada para cenayang (peramal). Yul Satrya Mukti, sang ahli Tarrot (baca : Tarro) mengaku dalam sehari ini sudah didatangi 37 klien dalam rentang waktu 4 jam saja.</em></p>
<p>Ketika saya membaca soal <strong>cenayang</strong> di harian Kompas, terus terang tadinya saya juga agak bingung apa arti yang sebenarnya dari kata <strong>cenayang</strong>. Menurut www.kamus.net artinya <em>clairvoyance</em>.  Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) merumuskannya sebagai dukun (pawang) yg dapat berhubungan dengan makhluk halus. Bila dicari lagi apa arti kata <em>Clairvoyance</em>, ternyata adalah kemampuan meramal. Tentu maksudnya kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat masa depan atau meramalkan apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.</p>
<p>Seseorang bisa dikatakan memiliki kemampuan sebagai <strong>cenayang</strong> bila mampu untuk meramal (melihat) suatu hal atau kejadian di masa yang akan datang. Tetapi ada juga seorang <strong>cenayang</strong> yang bisa melihat ke masa lalu.</p>
<p>Ada tiga tingkatan kemampuan seorang <strong>cenayang</strong> untuk meramal:</p>
<ol>
<li>Dia mampu meramal tanpa melihat langsung. Cukup dengan melihat foto, nama atau benda kesayangan (seperti baju) seseorang yang akan diramal, si ahli <strong>cenayang</strong> sudah mampu meramalkan orang tersebut. Di Indonesia kemampuan ini salah satunya dimiliki oleh Mama Lauren yang terkenal itu.</li>
<li>Kemampuan yang sedikit lebih rendah,  si <strong>cenayang</strong> harus berhadapan langsung dengan orang yang akan diramal, baru dia bisa meramalkan keadaan masa depan orang tersebut.</li>
<li>Kemampuan <strong>cenayang</strong> yang paling rendah selain harus berhadapan langsung, dia juga membutuhkan media. Antara lain seperti menggunakan Kemenyan atau Dupa atau pun Rokok Kretek, baru dia mampu meramal.</li>
</ol>
<p>Umumnya kita sering menyebut <strong>cenayang</strong> dengan kemampuan ke 1 dan 2 ini sebagai Paranormal. Sedangkan <strong>cenayang</strong> yang kemampuannya paling rendah sering disebut sebagai Dukun. Itulah sebabnya penokohan Dukun dalam filem/sinetron sering ditampilkan secara ekstrim dengan segala upacara ritual yang seram-seram dan penuh dengan asap dari kemenyan atau dupa yang dibakar.</p>
<p>Seorang <strong>cenayang</strong> yang kemampuannya begitu tinggi kadang juga bisa melihat penampilan mahluk halus, bahkan mampu berkomunikasi dengan mereka.</p>
<p>Kemampuan <strong>cenayang</strong> yang dimiliki di jaman moderen justru bagus untuk digunakan dalam bekerja maupun berbisnis. Misalkan kita akan tahu apa yang akan terjadi dengan perusahaan tempat bekerja sekarang, tahu-tahu malah dapat tawaran bekerja di tempat lain yang ternyata masa depannya akan menjadi baik dan sudah bisa “dilihat” oleh kita sendiri.</p>
<p>Kegunaan lainnya, bisa mengobati anak sendiri bila sedang sakit. Khususnya anak balita sangat mudah merespons kemampuan <strong>cenayang</strong> dari orangtuanya. Setidaknya mengurangi penderitaan demam atau kejang di tengah malam. Selain itu menghindari kehebohan harus ke rumah sakit di malam hari. Contoh lain, balita yang terganggu oleh “kedatangan” mahluk halus bisa ditangkal oleh orangtuanya sendiri. Ini yang kadang sering membuat balita mendadak menjerit ketika sedang enak tidur.</p>
<p>Suami-istri yang memiliki kemampuan <strong>cenayang</strong> bisa saling membantu untuk meningkatkan keharmonisan keluarga. Sudah banyak orang yang memiliki kemampuan ini dan tidak tekun beribadah, sering mengalami cobaan hidup yang rasanya seperti aneh. Dari tidak punya jodoh, tidak pernah dapat pekerjaan yang cocok atau rumah tangga sering cekcok. Bahkan sampai gangguan hubungan seksual juga bisa terjadi.</p>
<p>Bila Anda merasa memiliki kemampuan yang sering jadi bahan ejekan orang lain, jangan kuatir. Dekatkanlah diri Anda ke Tuhan. Selamat menikmati ke-<strong>cenayang</strong>-an Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/updates/cenayang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Informal Particle &#8216;Sih&#8217;</title>
		<link>/informal-particles/dong/</link>
		<comments>/informal-particles/dong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 05:17:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Colloquial Grammar]]></category>

		<category><![CDATA[bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[bahasa informal]]></category>

		<category><![CDATA[baik]]></category>

		<category><![CDATA[bakar]]></category>

		<category><![CDATA[balai bengong]]></category>

		<category><![CDATA[center of commerce]]></category>

		<category><![CDATA[hujan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[The addition of &#8220;sih&#8221; after a word or a sentence is generally to emphasize or accentuate curiosity &#8230;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The addition of &#8220;sih&#8221; after a word or a sentence is generally to emphasize or accentuate curiosity &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>/informal-particles/dong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gamang</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/updates/gamang/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/updates/gamang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 04:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vocabulary Updates]]></category>

		<category><![CDATA[gamang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Arti sebenarnya kata ‘gamang’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah perasaan takut, ngeri serta khawatir ketika kita berada di tempat yang tinggi dan melihat ke bawah. Atau tidak mampu berdiri dengan stabil. ... 
<a href="/updates/gamang/">more ... </a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.bahasakita.com/about/contributor/">Wieke Gur.</a></em><br />
Lyricist/Song Writer/Writer</p>
<p>Arti sebenarnya kata ‘<strong>gamang</strong>’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah perasaan takut, ngeri serta khawatir ketika kita berada di tempat yang tinggi dan melihat ke bawah. Atau tidak mampu  berdiri dengan stabil. Misalnya:</p>
<ol>
<li> Amir berdiri dengan <strong>gamang</strong> di atas balkon lantai 2 rumahnya.</li>
<li>Saat pertama kali melintasi jembatan gantung di atas jurang yang dalamnya ratusan meter &#8230; saya merasa sangat <strong>gamang</strong>.</li>
<li>Sudah seminggu ini saya sakit &#8230;. perut terasa mual, kepala berdenyut, lemas, dan untuk berdiri saja rasanya <strong>gamang</strong>.</li>
</ol>
<p>Namun pada prakteknya kata ‘<strong>gamang</strong>’ sering juga digunakan dalam konteks yang berbeda terutama dalam berita-berita resmi di media masa. Perhatikanlah contoh berikut ini:</p>
<p>17/12/08 05:19<br />
<strong>Gubernur BI: Gamang Mengambil Keputusan Berakibat Fatal</strong><br />
<em>Jakarta (ANTARA News) - Gamang mengambil keputusan dalam situasi yang potensi dampak buruk krisisnya sangat besar akan berakibat fatal terhadap perekonomian nasional, kata Gubernur Bank Indonesia Boediono saat menjelaskan tiga Perpu berkaitan krisis bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan Rudjito di Jakarta, tadi malam.</em></p>
<p>Kata ‘<strong>gamang</strong>’ disini menggambarkan ketidak beranian dalam mengambil keputusan pada saat dihadapkan pada masalah yang besar.</p>
<p>10/12/2008 06:52 WIB<br />
<strong>Rally di Wall Street Terhenti</strong><br />
<em>New York(Nurul Qomariyah - detikFinance) - Perdagangan saham berjalan cukup gamang, dan investor sudah mendapatkan peringatan akan terjadi profit taking setelah penguatan selama 2 hari berturut-turut. Nasdaq bahkan sempat menguat 1%, sebelum akhirnya berbalik arah.</em></p>
<p>Dalam konteks di atasa kata ‘<strong>gamang</strong>’ menggambarkan suasana yang tidak pasti, tidak jelas, penuh keraguan dalam perdagangan saham.</p>
<p>http://www.ayahbunda.co.id/<br />
<strong>Psikologi Kelahiran: Mandiri Tanpa Si Calon Ayah</strong><br />
<em>Jakarta (Ayahbunda) - Menanti kelahiran si kecil memang merupakan salah satu momen spesial dalam hidup. Namun bagaimana kalau suami tak dapat mendampingi Anda melewati saat istimewa ini karena harus bertugas di luar kota atau luar negeri untuk sementara waktu? Mungkin akan ada suatu saat dimana Anda merasa gamang dengan ketidakhadiran suami. Isi kekosongan itu dan bagi kekhawatiran yang Anda rasakan. Kakak, sepupu, dan teman yang telah memiliki anak, adalah teman berbagi yang tepat. </em></p>
<p>Kata ‘<strong>gamang</strong>’ juga dapat digunakan untuk melukiskan perasaan sunyi, lengang atau kesepian karena ditinggalkan oleh seseorang yang kita cintai.</p>
<p>Sebagian besar orang Indonesia masih sangat <strong>gamang</strong> menggunakan berbagai perangkat lunak-perangkat lunak komputer yang masih memakai antarmuka (interface) berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Namun seorang teman saya mengatakan dia justru merasa <strong>gamang</strong> jika harus bekerja dengan aplikasi komputer yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, siapa yang seharusnya merasa <strong>gamang</strong>?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/updates/gamang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Modern Indonesian Poetry</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/articles/modern-indonesian-poetry/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/articles/modern-indonesian-poetry/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 13:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Di Serambi - On The Verandah]]></category>

		<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>

		<category><![CDATA[Iem Brown]]></category>

		<category><![CDATA[Joan Rivers]]></category>

		<category><![CDATA[Kubakar Cintaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[
Kubakar Cintaku

By Emha Ainun Nadjib
Kubakar cintaku
Dalam hening nafasMu
Perlahan lagu menyayat
nasibku yang penat
Kubakar cintaku
Dalam sampai sunyiMu
Agar lindap, agar tatap
dari hujung merapat
Rinduku terbang
Menembus penyap bayang
Rinduku burung malam
Menangkup cahaya: rahasia bintang-bintang
Kucabik mega, kucabik suara-suara
Betapa berat Kau di sukma
Agar Hati, agar sauh di pantai
Sampai juga di getar Ini

I Burn My Love

Translated into English by Iem Brown &#38; Joan Davis
From [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="usage">
<h4>Kubakar Cintaku</h4>
</div>
<p><em>By Emha Ainun Nadjib</em></p>
<p>Kubakar cintaku<br />
Dalam hening nafasMu<br />
Perlahan lagu menyayat<br />
nasibku yang penat</p>
<p>Kubakar cintaku<br />
Dalam sampai sunyiMu<br />
Agar lindap, agar tatap<br />
dari hujung merapat</p>
<p>Rinduku terbang<br />
Menembus penyap bayang<br />
Rinduku burung malam<br />
Menangkup cahaya: rahasia bintang-bintang</p>
<p>Kucabik mega, kucabik suara-suara<br />
Betapa berat Kau di sukma<br />
Agar Hati, agar sauh di pantai<br />
Sampai juga di getar Ini</p>
<div class="usage">
<h4>I Burn My Love</h4>
</div>
<p><em>Translated into English by <a href="http://www.bahasakita.com/about/contributor/">Iem Brown &amp; Joan Davis</a><br />
From <a href="http://books.google.com.au/books?hl=en&amp;id=1yvKKoITblwC&amp;dq=iem+brown&amp;printsec=frontcover&amp;source=web&amp;ots=edEVs6zG7p&amp;sig=M1Zkpy_ce4tCM4r7i3zeg1aDElg&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;resnum=1&amp;ct=result#PPP1,M1" target="_blank">&#8220;Di Serambi - On The Verandah, A Bilingual Anthology of Modern Indonesian Poetry&#8221;</a></em></p>
<p>I burn my love<br />
Into quiet of Your breath<br />
Slowly the song touches<br />
my weary fate</p>
<p>I burn my love<br />
Into the depth of Your stillness<br />
So that it is hazy, watchful<br />
from the end approaching</p>
<p>My longing flies<br />
Stabs vanishing shadows<br />
My longing is a bird of night<br />
Catching the light: the secret of the stars</p>
<p>I rend clouds, I rend voices<br />
How heavy You are in the soul<br />
So that the Heart, so that the anchor at the shore<br />
Reaches also this pulse</p>
<p><em>Photography by Bagas D. Bawono</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/articles/modern-indonesian-poetry/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GR (baca: G&#233; &#233;R= Ged&#233; Rasa)</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/slang/gr-baca-g-r-ged-rasa/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/slang/gr-baca-g-r-ged-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 05:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Slang]]></category>

		<category><![CDATA[ge er]]></category>

		<category><![CDATA[gede rasa]]></category>

		<category><![CDATA[gr]]></category>

		<category><![CDATA[gr-gr-in]]></category>

		<category><![CDATA[ke-ge-er-an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[GR adalah singkatan dari Gede Rasa. Gede berasal dari bahasa Jawa yang artinya besar. Rasa berhubungan dengan perasaan seseorang. Jadi GR atau Gede Rasa artinya bisa merasa tersanjung yang tidak pada tempatnya; merasa penting atau terlalu percaya diri  .... <a href="/updates/gr-baca-g-r-ged-rasa/">more ... </a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Hai.. apa kabar sayang? Udah lama banget ya kita nggak ketemu&#8230; Kamu makin cantik aja&#8230; 20 tahun ada kali ya kita nggak ketemu.. terakhir waktu kamu jadi Teller di Bank Niaga&#8230; Kamu masih kerja? Atau udah jadi nyonya besar?”  begitu banyak pernyataan dan pertanyaan yang Irvan lontarkan pada saat bertemu dengan Sari di Acara Reuni besar SMP nya dulu.</p>
<p>Sari hanya senyum-senyum saja mendengar pujian Irvan yang ditujukan padanya. Namun dalam hatinya dia merasa <strong>GR</strong>. Ada rasa senang dan rasa tersanjung. Di usianya yang sudah tidak muda lagi ternyata masih ada pria yang menganggapnya cantik.  Padahal Sari sadar betul bahwa dia sudah tidak secantik masa-masa remaja dulu. Sudah timbul sedikit-sedikit keriput tentunya diusianya yang hampir 50, 3 tahun lagi.</p>
<p>Dan yang membuat hatinya semakin berbunga bunga adalah karena Irvan juga memanggilnya ‘sayang’.  Rasanya sudah lama sekali Sari tidak pernah mendengar kata itu. Dulu jaman masih pacaran dengan pria yang kini menjadi suaminya memang selalu memanggilnya ‘sayang’.  Namun seiring dengan berjalannya waktu kata itu hampir tidak pernah keluar lagi dari mulut suaminya.</p>
<p>Dengan tidak sabar, sambil berbinar-binar  dan dengan bangganya Sari langsung menceritakan sanjungan Irvan tadi kepada Susi yang sedari tadi memperhatikan dari jauh keakraban yang terjalin antara Irvan dan Sari.”Sus, kayaknya Irvan suka sama gue deh &#8230;”.</p>
<p>“Yah Sar&#8230;&#8230;. kamu <strong>ke-GR-an</strong> amat sih. Irvan memang begitu. Semua cewek- cewek sama dia dipanggil sayang dan semua orang dia bilang cantik&#8230; bahkan kadang-kadang seksi&#8230; Kata-kata itu sudah jadi bahasa sehari harinya Irvan. Bukan berarti dia naksir kamu.” kata Susi sambil tertawa geli.</p>
<p>“Aku sih nggak pernah merasa <strong>GR</strong> kalau ada cowok panggil aku sayang. Karena aku sendiri sering kok <strong>GR-GR-in</strong> cowok,” kata Susi lagi tanpa merasa bersalah bahwa jawabannya sedikit banyak menghancur luluhkan rasa senang dan rasa ketersanjungan Sari. Namun buat Susi penting sekali menyadarkan Sari pada kenyataan bahwa keramah tamahan Irvan bukan berarti dia menyukai Sari secara khusus.</p>
<p><strong>GR</strong> adalah singkatan dari Gede Rasa. Gede berasal dari bahasa Jawa yang artinya besar. Rasa berhubungan dengan perasaan seseorang. Jadi <strong>GR</strong> atau <strong>Gede Rasa</strong> artinya bisa merasa tersanjung yang tidak pada tempatnya; merasa penting atau terlalu percaya diri bahkan salah paham; bisa juga berarti perasaan senang dalam jumlah besar(gede=besar) atau berlebihan. <strong>GR</strong> adalah kata sifat. Dari kata ini kemudian timbul kata benda <strong>ke-GR-an</strong>. Dan ‘<strong>GR-GR-in</strong>’ adalah bentuk kata kerja slang yang artinya membuat seseorang merasa <strong>GR</strong>.</p>
<p>“Hebat lo&#8230;! Orang-orang belum selesai ulangannya, lo udah keluar duluan&#8230;” begitu komentar Chacha kepada Mario di kantin sekolah, usai ulangan Matematika. Padahal menurut Chacha ulangan Matematika barusan cukup sulit.</p>
<p>“Tenang Cha&#8230; begitu gue liat soalnya, ternyata nggak beda dengan contoh soal tahun lalu. Nilai 9 aja sih udah di tangan&#8230;.”, kata Mario degan gaya yakin.</p>
<p>“ <strong>GR</strong> lo! Angka-angka hitungannya kan belum tentu sama? Siapa tahu angkanya dirubah,” ujar Chacha berusaha menepis keyakinan mario yang berlebihan itu. Keyakinan akan suatu hal yang berlebihan juga bisa dikatakan <strong>GR</strong>.</p>
<p>Merasa <strong>GR</strong> memang suatu perasaan yang menyenangkan selama kita mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Karena kalau kita mudah <strong>GR</strong> bisa repot urusannya, orang akan mudah mempermainkan perasaan kita. Apakah Anda sering merasa <strong>GR</strong> dalam hidup Anda?</p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://www.bahasakita.com/about/contributor/">Nina Muriza</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/slang/gr-baca-g-r-ged-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Ejaan Van Ophuijsen Hingga EYD</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/articles/dari-ejaan-van-ophuijsen-hingga-eyd/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/articles/dari-ejaan-van-ophuijsen-hingga-eyd/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 03:52:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[ch]]></category>

		<category><![CDATA[dj]]></category>

		<category><![CDATA[Ejaan Melindo]]></category>

		<category><![CDATA[Ejaan Soewandi]]></category>

		<category><![CDATA[Ejaan Van Ophuijsen]]></category>

		<category><![CDATA[Ejaan Yang Disempurnakan]]></category>

		<category><![CDATA[EYD]]></category>

		<category><![CDATA[kata2 ulang]]></category>

		<category><![CDATA[kh]]></category>

		<category><![CDATA[oe]]></category>

		<category><![CDATA[tj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma&#8217;moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut:

Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
Huruf oe untuk menuliskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4>1. Ejaan van Ophuijsen</h4>
<p>Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh <em>van Ophuijsen</em> dibantu oleh <em>Engku Nawawi Gelar Soetan Ma&#8217;moer</em> dan <em>Moehammad Taib Soetan Ibrahim</em>. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.</li>
<li>Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.</li>
<li>Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma&#8217;moer, &#8216;akal, ta&#8217;, pa&#8217;, dinamai&#8217;.</li>
</ol>
<h4>2. Ejaan Soewandi</h4>
<p>Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.</li>
<li>Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.</li>
<li>Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.</li>
<li>Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.</li>
</ol>
<h4>3. Ejaan Melindo</h4>
<p>Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.</p>
<h4>4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan(EYD)</h4>
<p>Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.</p>
<p>Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.</p>
<p>Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.</p>
<p>Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut:</p>
<div class="usage">
<h4>Perubahan Huruf</h4>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Ejaan Soewandi</strong></td>
<td><strong>Ejaan yang Disempurnakan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>djalan, djauh</td>
<td>jalan, jauh</td>
</tr>
<tr>
<td>pajung, laju</td>
<td>payung, layu</td>
</tr>
<tr>
<td>njonja, bunji</td>
<td>nyonya, bunyi</td>
</tr>
<tr>
<td>isjarat, masjarakat</td>
<td>isyarat, masyarakat</td>
</tr>
<tr>
<td>tjukup, tjutji</td>
<td>cukup, cuci</td>
</tr>
<tr>
<td>tarich, achir</td>
<td>tarikh, akhir</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div class="usage">
<h4>Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.</h4>
</div>
<p>f maaf, fakir<br />
v valuta, universitas<br />
z zeni, lezat</p>
<div class="usage">
<h4>Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.</h4>
</div>
<p>a : b = p : q<br />
Sinar-X</p>
<div class="usage">
<h4>Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.</h4>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>di- (awalan)</strong></td>
<td><strong>di (kata depan)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>ditulis</td>
<td>di kampus</td>
</tr>
<tr>
<td>dibakar</td>
<td>di rumah</td>
</tr>
<tr>
<td>dilempar</td>
<td>di jalan</td>
</tr>
<tr>
<td>dipikirkan</td>
<td>di sini</td>
</tr>
<tr>
<td>ketua</td>
<td>ke kampus</td>
</tr>
<tr>
<td>kekasih</td>
<td>ke luar negeri</td>
</tr>
<tr>
<td>kehendak</td>
<td>ke atas</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div class="usage">
<h4>Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.</h4>
</div>
<p>anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat</p>
<p style="text-align: right;"><em>Sumber: Cermat Berbahasa Indonesia, Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/articles/dari-ejaan-van-ophuijsen-hingga-eyd/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Martabak Telur</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/language-and-cooking/martabak-telur/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/language-and-cooking/martabak-telur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 13:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Language and Cooking]]></category>

		<category><![CDATA[acar]]></category>

		<category><![CDATA[crepe]]></category>

		<category><![CDATA[kulit lumpia]]></category>

		<category><![CDATA[Martabak]]></category>

		<category><![CDATA[martabak telur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[Learn more vocabulary from Indonesian recipes. Try Martabak Telur or Egg Martabak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Martabak is a popular meal in Indonesia. It is a crepe-like dish which is filled with vegetables and minced meat. It needs chicken or duck eggs for the batter to make the pastry. But this pastry can be replaced by ready-made filo pastry.</em></p>
<p><em>The thin filo pastry is shallow-fried in a custom made flattened heavy wok. The ingredients are added, then the pastry is wrapped around the ingredients to make a parcel. It is then cut into squares for consumption. It is often eaten with slices of cucumber, and a dark brown sauce made of vinegar and palm sugar.</em></p>
<h4><strong>Bahan</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-1' id='fnref-841-1'>1</a></sup></h4>
<p>15 <strong>kulit lumpia</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-2' id='fnref-841-2'>2</a></sup><br />
<strong>1 ons</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-3' id='fnref-841-3'>3</a></sup><strong> daging cincang</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-4' id='fnref-841-4'>4</a></sup><br />
1 <strong>bawang bombay</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-5' id='fnref-841-5'>5</a></sup><br />
3 <strong>siung</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-6' id='fnref-841-6'>6</a></sup> <strong>bawang putih</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-7' id='fnref-841-7'>7</a></sup><br />
3 <strong>butir telur</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-8' id='fnref-841-8'>8</a></sup><br />
<strong>Daun bawang</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-9' id='fnref-841-9'>9</a></sup> iris halus<br />
1/2 sendok teh <strong>bubuk kar</strong>i<sup class='footnote'><a href='#fn-841-10' id='fnref-841-10'>10</a></sup><br />
1 sendok makan <strong>kecap manis</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-11' id='fnref-841-11'>11</a></sup> <strong></strong><br />
<strong>gula pasir</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-12' id='fnref-841-12'>12</a></sup><br />
garam<br />
1/2 sendok teh <strong>lada putih</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-13' id='fnref-841-13'>13</a></sup><br />
1/2 sendok teh <strong>pala</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-14' id='fnref-841-14'>14</a></sup></p>
<h4><strong>Cara membuat</strong>:</h4>
<ol>
<li><strong>Cincang</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-15' id='fnref-841-15'>15</a></sup> bawang bombay dan bawang putih lalu <strong>ditumis</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-16' id='fnref-841-16'>16</a></sup></li>
<li>Masukkan daging, garam, merica, pala, bubuk kari, <strong>aduk rata</strong>,<sup class='footnote'><a href='#fn-841-17' id='fnref-841-17'>17</a></sup> <strong>beri</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-18' id='fnref-841-18'>18</a></sup> air sedikit. Lalu masukan kecap dan aduk rata lagi.</li>
<li>Kocok telur<sup class='footnote'><a href='#fn-841-19' id='fnref-841-19'>19</a></sup>, masukkan irisan daun bawang, dan campurkan daging cincang.</li>
<li><strong></strong>Isi tiap lembar kulit lumpia dengan adonan di atas, bungkus seperti amplop <sup class='footnote'><a href='#fn-841-20' id='fnref-841-20'>20</a></sup>. Kemudian <strong>goreng dengan minyak sedikit</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-21' id='fnref-841-21'>21</a></sup>.  margarine. <strong>Setelah matang, lalu dipotong potong segi empat</strong><sup class='footnote'><a href='#fn-841-22' id='fnref-841-22'>22</a></sup>.</li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><em>Recipe and photography<br />
by Zsi Zsi Thanos -<br />
Cape Town, South Africa</em>
</p>
<p style="image-align: right;"><a href="http://www.bahasakita.com/wp-content/uploads/zsi1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-665 alignright" style="float: right;" title="zsi1" src="http://www.bahasakita.com/wp-content/uploads/zsi1.jpg" alt="" width="80" height="100" /></a></p>
<h4>Vocabulary - Kosa Kata</h4>
<div class='footnotes'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-841-1'>Ingredients <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-2'>spring rolls pastry <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-3'>100 grams <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-4'>minced meat <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-5'>onion <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-6'>clove <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-6'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-7'>garlic <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-7'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-8'>eggs <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-8'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-9'>spring onion <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-9'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-10'>curry powder <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-10'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-11'>sweet soy <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-11'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-12'>sugar <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-12'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-13'>white pepper <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-13'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-14'>nutmeg <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-14'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-15'>chop <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-15'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-16'>saut&amp;eacute; <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-16'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-17'>mix evenly <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-17'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-18'>add <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-18'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-19'>cool beat the eggs <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-19'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-20'>Put this mixture in a spring roll pastry, fold like an envelope <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-20'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-21'>fry  in a little oil <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-21'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-841-22'>Cut the cooked crepe into squares <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-841-22'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/language-and-cooking/martabak-telur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gaul</title>
		<link>http://www.bahasakita.com/slang/gaul/</link>
		<comments>http://www.bahasakita.com/slang/gaul/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 05:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Slang]]></category>

		<category><![CDATA[tenggat]]></category>

		<category><![CDATA[tidak sesuai dengan fungsi]]></category>

		<category><![CDATA[tidak sesuai dengan rencana]]></category>

		<category><![CDATA[tie]]></category>

		<category><![CDATA[tinggal dimana]]></category>

		<category><![CDATA[toko]]></category>

		<category><![CDATA[tolong]]></category>

		<category><![CDATA[tonton]]></category>

		<category><![CDATA[transitive verb]]></category>

		<category><![CDATA[traveling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bahasakita.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Istilah ‘gaul’ dalam percakapan sehari hari memiliki arti yang sangat luas dan dapat diaplikasikan menjadi beberapa istilah seperti: bahasa gaul, anak gaul, kurang gaul, bergaul, segaul, paling gaul, gaul banget. Orang yang memiliki banyak teman dan  ...<a href="/slang/gaul/">more ... </a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Hai-hai“, seru gadis yang bertatoo. “Ih, kok jaim gitu seh !“ protesnya berlanjut. Gadis berkaca mata menghela nafas, dan berseru, “Jayus deh, pagi-pagi gini.“ Lalu mereka sibuk bercipika dan cipiki (cium pipi kanan dan pipi kiri). “Pasti nggak jauh neh, Andre lekong loh bikin stori lagi yah ? Udah go jomblo aje ne ! Takut amat seh &#8230;.“ gadis bertatoo memberikan motivasi. “Enak aje capcus-nye. Andre kan agatha banget, tajir, dan nggak pelit. Facenya juga licin abis. Imut banget.”</em></p>
<p>Percakapan di atas memang tidak persis banget. Tapi hanya saya rekam sebagian yang saya ingat saja. Saya juga bukan ahli dengan bahasa seperti itu. Anda mungkin bertanya, apakah itu bahasa Indonesia ? Percaya atau tidak, itu memang bahasa Indonesia tulen. Istilah kerennya, <strong>bahasa</strong> <strong>gaul</strong> jaman gini. Kalau anda tidak paham dengan bahasa ini, maka anda bisa di cap <strong>kurang</strong> <strong>gaul</strong>.</p>
<p>Makin hari makin banyak istilah yang diciptakan. Jadi yang kurang bergaul makin lama jadi makin tidak mengerti apa apa ya kalau ada orang ngomong. Termasuk para orang tua yang semakin bingung dan tidak mengerti kalau anaknya sedang ‘<em>chatting</em>’ atau bicara di telepon dengan teman-temannya.</p>
<p>Orang-orang yang tidak rajin mengikuti gosip-gosip terakhir pun bisa kita sebut sebagai orang yang <strong>kurang</strong> <strong>gaul</strong>, seperti contoh berikut:</p>
<p><em>“Tet, besok jangan lupa makan siang sama Dodi, Djati, Ineng dan Nana di Pacific Place”, kata Eni mengingatkan Tetty via telepon. “Dimana Pacific Place?”, kata suara di seberang gagang telepon. “Wah! Payah lo &#8230; <strong>kurang gaul</strong> juga  .. masa Pacific Place nggak tau”, kata Eni lagi.</em></p>
<p>Ekspresi ‘<strong>kurang gaul</strong>’ di atas artinya Teti dianggap kurang mengikuti perkembangan adanya tempat tempat baru yang populer di Jakarta.</p>
<p>Istilah ‘<strong>gaul</strong>’ dalam percakapan sehari hari memiliki arti yang sangat luas dan dapat diaplikasikan menjadi beberapa istilah seperti: <strong>bahasa gaul, anak gaul, kurang gaul, bergaul, segaul, paling gaul, gaul banget</strong>. Orang yang memiliki banyak teman dan kenalan dianggap orang yang sangat bergaul.</p>
<p>Simak percakapan di bawah ini:</p>
<p><em>“Tau nggak?? Ternyata si Nina kenal juga sama Tony, Wawan, dan Iwan lho”, kata Pungky pada Dessy sahabatnya. “Lho .. Nina itu dari dulu memang <strong>gaul</strong> banget. Semua orang dia kenal. Lihat saja di kolom Face Book-nya dia. Daftar temannya lebih dari 3000. Yang nggak <strong>bergaul</strong> kan cuma kamu. Temen kamu itu cuma aku sama suami kamu .. hahaha, “ kata Dessy terbahak. Di SMA Nina memang terkenal anak <strong>paling</strong> <strong>gaul</strong>. Yang lain-lainnya tidak ada yang <strong>se-gaul</strong> dia.</em></p>
<p>Dalam hal ini dijelaskan bahwa Nina adalah anak yang sangat populer di kalangan teman temannya dan memiliki teman yang sangat banyak.</p>
<p>Atau:</p>
<p><em>“Hai Din, apa acara kamu Jumat malam besok?,” tanya Tetty pada teman kantornya. “Oh .. besok aku mau <strong>bergaul</strong> sama teman-teman ex SMP ku di Pondok Indah Mall”, kata Dina sambil berbinar binar.</em></p>
<p>‘<strong>Bergaul</strong>’di atas artinya berkumpul dengan teman teman.</p>
<p>Atau:</p>
<p><em>“Hai San, kamu kenal Linda nggak? Dia rumahnya di Bintaro juga lho deket rumah kamu”,   tanya Ayu. Santi pun menggeleng-geleng,”Wah! Aku kalau di rumah nggak <strong>bergaul</strong>, jadi nggak kenal siapa-siapa”.</em></p>
<p>‘<strong>Bergaul</strong>’ di atas artinya berteman, bersosialisasi, dan mau berinterkasi dengan orang-orang sekitar.</p>
<p>Namun jangan samakan kata ‘<strong>gaul</strong>’ dalam percakapan sehari-hari dengan kata gaul dalam bahasa resmi atau formal. Sebagai kata dasar kata ‘gaul’ memang memiliki arti yang sama baik bahasa formal atau pun bahasa sehari-hari yaitu berteman, berinterkasi dengan orang lain dan bermasyarakat.</p>
<p>Penambahan awalan dan akhiran ke dalam kata ‘gaul’ dalam bahasa formal memberikan arti yang sama sekali berbeda dengan yang dipakai dalam percakapan sehari hari.</p>
<p>Menggauli - bersetubuh<br />
Digauli - disetubuhi<br />
Menggaul - mencampur, mengaduk<br />
Pergaulan - kehidupan bermsyarakat</p>
<p style="text-align: right;"><em>Kafi Kurnia/Wieke Gur.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bahasakita.com/slang/gaul/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.621 seconds -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2009-01-07 09:38:54 -->
<!-- Compression = gzip -->