Bahasa Kelompok, Bahasa Indonesia, Bahasa Pemersatu

Saya tidak tahu apakah artikel ini perlu atau tidak bagi sebuah grup yang mengangkat topik kosakata bahasa Indonesia. Yang ada dalam benak saya adalah betapa amat kayanya bahasa daerah. Saat ini di Indonesia terdapat lebih kurang 39 provinsi (termasuk prov pemekaran), dan kesemuanya memiliki bahasa dan dialeknya masing-masing, inipun masih banyak turunannya berdasarkan “marga” ataupun “trah”, misalnya di Papua atau Irian yang memiliki 300 lebih suku dengan bahasa yang berbeda. Dapat dibayangkan betapa kaya dan beragamnya bahasa yang ada di bumi Indonesia.

Ada kepercayaan bahwa Bahasa mencerminkan identitas bangsa, namun dalam perjalanan jamannya bahasa juga dapat digunakan untuk merefleksikan jatidiri kelompok.

Dalam kesempatan ini akan dibahas dan diperkenalkan dengan salah satu bahasa yang telah mengalami perubahan hasil “utak-atik” untuk kemudian dijadikan sebagai bahasa kelompok.

Basa Walikan Yogyakarta sebagai bahasa kelompok
Bagi masyarakat Yogyakarta, basa (baca boso) atau bahasa walikan (prokem) sangat populer. Informasi pertama yang pernah saya terima adalah bahasa walikan ini sering digunakan oleh kaum “gali” atau “bromocorah” (prokem) di sekitar era tahun 1960an.. pada saat itu beberapa preman sering membicarakan antar preman dengan kata kata yang di sandikan untuk menghindari polisi. Gara gara hal tersebut akhirnya merebak sampai dengan saat ini. Akan tetapi beberapa anak yogyakarta sendiri terkadang juga tidak mengetahui tentang apa makna dibalik kata tersebut.

Informasi kedua yang saya terima kemudian adalah bahwa konon basa walikan mula pertama dipakai oleh para pejuang gerilyawan RI untuk menjaga rahasia komunikasi mereka agar tidak bocor ke tangan NICA. Perkembangan saat ini menjadi semakin unik karena digunakan sebagai bahasa gaul anak muda Yogyakarta

Pada intinya, bahasa ini merupakan hasil proses kombinasi dari mengutak-atik aksara jawa. Aksara jawa baris 1 ditukar dengan baris 3, baris 2 dengan baris 4, dan sebaliknya baris 3 dengan 1, baris 4 dengan 2. Sedangkan kolom dan sandangannya sama.

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Huruf vokal megikuti dengan huruf vokal seperti kata aslinya. Contohnya kata dagadu merupakan sebuah kata bahasa walikan  yang aslinya adalah :
kata “ma” =  baris keempat kolom pertama
kata “ta” =  baris kedua kolom ke dua
kata “mu” = baris keempat kolom pertama
da-ga-du = ma-ta-mu
kata “da” =  baris kedua kolom pertama
kata “ga” =  baris keempat kolom ke dua
kata “du” = baris kedua kolom pertama dengan vokal “u”

Jika sebuah anak kata jatuh pada  baris pertama misalnya kata “hari”, maka anak kata “ha” harus menggunakan kata pada dua baris dibawahnya pada kolom yang sama, “ Ha” menjadi “Pa”, “Ri” menjadi “Yi”, huruf “i” pada “Ri” merubah “Ya” menjadi “Yi”. Hasilnya adalah “Hari” menjadi “Payi”
Semua kata awal huruf vokal misalnya a-i-u-e-o  ditambah awalan “P”, misalnya kata dalam bahasa jawa “iso” (bisa) menjadi “I” + awalan “p” menjadi “Pi”, sedangkan “So” padanan dengan “Sa” turun dua baris kebawah menjadi  “Ba” kemudian berubah menjadi “Bo”, maka “iso” berubah menjadi “Pibo”  dan begitu seterusnya.

tuladha (contoh) :
kowé (kamu)         =  nyothé
turu (tidur)         = gunyu
mangan (makan)     = daladh
ayu (cantik)         = paru
mas (kakak)         = dab
matamu         = dagadu

Biasanya basa “walikan” ini lebih sering menggunakan bahasa jawa sehari-hari dengan menggunakan kalimat-kalimat singkat seperti : “Aku ora ngerti” (saya tidak mengerti) = “panyu poya lesgi”
Telaahan diatas hanyalah salah satu contoh dari sekian banyaknya bahasa kelompok yang ada di Indonesia, tentu saja bukan untuk diperdebatkusirkan, hanya sekedar sebagai wawasan  saja, yang paling utama adalah bagaimana kita sebagai anak bangsa menjunjung tinggi bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia, Bahasa Pemersatu
Telah dibahas diatas, bahwa bahasa dapat juga dijadikan sebagai “kebanggaan kelompok” atau “jatidiri kelompok”, hal ini membuktikan bahwa bahasa dapat dijadikan sebagai alat untuk menyatukan komunikasi yang sama (entitas) dalam lingkup bangsa, suku, trah, golongan, organisasi, dan bahkan kelompok kecil “perkoncoan” dalam sebuah interaksi sosial dimensi manusia

Kenyataan ini seringkali memunculkan potensi “konflik” yang berbau “SARA”. Pengalaman membuktikan bahwa konflik tersebut telah berhasil memecah belah persatuan  dan kemanusiaan.
Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi untuk menghambat perhubungan antardaerah antarbudaya. Tetapi, berkat bahasa Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah janganlah bersikap “stereotype” dan “sinisme” terhadap keberagaman sukubangsa dan bahasa di Indonesia. Kita percaya bahwa segenap perbedaan mampu dipersatukan oleh sebuah bahasa, yaitu bahasa Indonesia, sebagaimana Soempah Pemuda 1928.

Bahasa Indonesia harus senantiasa diupayakan dan diwujudkan sebagai  bahasa pemersatu bangsa karena bahasa Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Keenam kedudukan ini mempunyai fungsi yang berbeda, walaupun dalam praktiknya dapat saja muncul secara bersama-sama dalam satu peristiwa, atau hanya muncul satu atau dua fungsi saja.

Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing, bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meinggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan, lebih dari itu, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini, kepentingan nasional diletakkan jauh di atas kepentingan daerah dan golongan.

Bahasa kelompok pasti akan muncul dimanapun sebagai sebuah fenomena logis dari keberagaman suku bangsa di seluruh wilayah nusantara, tidak untuk dipertajam sebagai sebuah potensi konflik, namun lebih karena dorongan “entitas” dan semangat fanatisme kelompok, sedangkan bahasa Indonesia lambat laun namun pasti akan terus mewujudkan dirinya sebagai bahasa “pemersatu”,.

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.

About author
Born in Jakarta, on February 20, 1961, he graduated his Master degree in Urban and Town Planning from the University of Gadjah Mada, Yogyakarta. He works as a researcher in BPPT and as the Head of Research & Development in BAPPENAS, Jakarta. He likes writing and contributes several articles in Jurnal Nasional newspaper.

BahasaKita © 2014 All Rights Reserved

A Wieke Gur Production